Sabtu, 30 Januari 2010

Ritual Pagi

Saat ini juga harus aku nyatakan!
Namun tiap pintu tak ada yang membuka untukku.
Sementara keringat dingin mulai menetes.
Kedua tangan terkepal menahan sakit.
Ya Tuhan….selamatkan aku.
Nekad sebuah pintu kudobrak.
Tak kupeduli jerit ketakutan pemilik ruang.
Tak kupeduli sumpah serapah orang-orang.
Saat ini juga harus aku keluarkan!
Dengan khusuk aku mengerang.
Lewat asap tembakau kubaca mantra.
Dari alam, pulanglah kau ke alam!!
MERDEKA!!

RINDU PUISI



Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat

Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi

Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat

Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali

Kamis, 28 Januari 2010

Yan Yan Ariesandi Nugraha

Yan Yan Ariesandi Nugraha

Yan Yan Ariesandi Nugraha: Kolaborasi

Yan Yan Ariesandi Nugraha: Rumah Soca Tasikmalaya

Yan Yan Ariesandi Nugraha: Adipura Kota Tasikmalaya

Yan Yan Ariesandi Nugraha: Adipura Kota Tasikmalaya

Yan Yan Ariesandi Nugraha: PUISI MALAM

Yan Yan Ariesandi Nugraha: PUISI MALAM

PUISI MALAM

Ku tuturkan dalam bahasa lugas tanpa lafas
tergugu beku mencumbu malam dalam dekapan rindu puisi malam
Ada yang terlepas dari dasar jiwa , cintanya dan pemujanya
Bergulir sayup-sayup desau risau angin membelai wajahku yang pucat pasi
Dari bayangan sejuta angan kutahu semua terhampakan
Kembali kututurkan satu-satu bahasa dalam kalbuku
Mencuri jauhnya jiwa yang pernah termiliki dan yang kini terlepaskan
Tak tergeming meski hujahan rindu puisi malam aku hantarkan
lewat sayap-sayap kecil kelelawar malam
Hambakan sebuah fatamorgana yang dulu tercipta
Tersabit tajam belati ngilu dirasa tak juga terkata
Bentangan kabut malam menjemput peraduan bisu disetiap lengkuhan nafas terjagaku
Cicit burung tidurkan ilalang di padang yang gelap
Membatasi pandangan antara kehadiran bayangan yang terpasung di kegelapan
Rebah di puncak kekalutan akan sebuah kehilangan
Kututurkan satu desahan lelahku
Rinduku beradu menyalak bak serigala yang lapar
namun rindu ini terkubur kembali dalam gulita malam
puisi malam hanyalah gugahan jiwaku yang terjerembab dalam gelap kehidupan sesaat