Ciuman itu begitu maut
Gatal, menyakitkan dan membekas.
Tanda mata dari sikecil mungil
Yang terbang dari satu tempat ke tempat lain
Demi seteguk darah
Plak! Plak! Plak! dengan tangan atau raket
Tapi seolah dia mengejek
Terus berusaha menancapkan moncongnya
Demi seteguk
Atau sesuap darah segar
Ciuman sang betina yang begitu mematikan
Tidaklah indah dan nikmat seperti ciuman pertama
Sang tamu tak diundangpun ikut masuk
Dalam aliran darah, dalam detak jantung
Dan dalam hitungan hari, minggu, bulan terlihatlah akibatnya
Ciuman itu begitu menakutkan
Baik dari anopheles, culex, aedes aegepty, aedes albopictus atau 2000 jenis lagi
Semuanya menakutkan, mencemaskan
Bak regu tembak yang siap memuntahkan isi pelurunya
Kepada sang terpidana mati
Ciuman itu begitu mengerikan
Manakala beriring dengan demam berdarah, kaki gajah, malaria
Akibat ciumannya yang menjerat…
Sang dewi kematian dapat mengancam
Merenggut setiap jiwa yang lemah
Ciuman itu dapatlah terhindar
Jika kita menyadari makna keberadaan mereka
Jika kita paham benar dengan makna hidup
Cium mereka dengan obat nyamuk
Dijamin...menyingkir...yyyuukkkkkk
Rabu, 17 Februari 2010
Senin, 01 Februari 2010
AKU MERINDUMU
Riuh melodi rindu kian menggebu
Melepas jejak jalan yang berabu
Saat hati tak bisa bersatu
Saat mata tak bisa bertemu
Sebuah kerinduan membuncah dalam kalbu
Aku sangat merindumu
Seperti malam merindu pagi
Seperti punguk merindu bulan
Sejuta nuansa hati bersatu
Dalam sejuta tanya dan permainan rasa
Aku merindumu kekasih
dan aku terus berteriak dalam hening
Tak adakah suara datang kepadamu
menceritakan rasa rindu yang tertuang
Dalam sebuah bait kata [...]
Melepas jejak jalan yang berabu
Saat hati tak bisa bersatu
Saat mata tak bisa bertemu
Sebuah kerinduan membuncah dalam kalbu
Aku sangat merindumu
Seperti malam merindu pagi
Seperti punguk merindu bulan
Sejuta nuansa hati bersatu
Dalam sejuta tanya dan permainan rasa
Aku merindumu kekasih
dan aku terus berteriak dalam hening
Tak adakah suara datang kepadamu
menceritakan rasa rindu yang tertuang
Dalam sebuah bait kata [...]
Sabtu, 30 Januari 2010
Ritual Pagi
Saat ini juga harus aku nyatakan!
Namun tiap pintu tak ada yang membuka untukku.
Sementara keringat dingin mulai menetes.
Kedua tangan terkepal menahan sakit.
Ya Tuhan….selamatkan aku.
Nekad sebuah pintu kudobrak.
Tak kupeduli jerit ketakutan pemilik ruang.
Tak kupeduli sumpah serapah orang-orang.
Saat ini juga harus aku keluarkan!
Dengan khusuk aku mengerang.
Lewat asap tembakau kubaca mantra.
Dari alam, pulanglah kau ke alam!!
MERDEKA!!
Namun tiap pintu tak ada yang membuka untukku.
Sementara keringat dingin mulai menetes.
Kedua tangan terkepal menahan sakit.
Ya Tuhan….selamatkan aku.
Nekad sebuah pintu kudobrak.
Tak kupeduli jerit ketakutan pemilik ruang.
Tak kupeduli sumpah serapah orang-orang.
Saat ini juga harus aku keluarkan!
Dengan khusuk aku mengerang.
Lewat asap tembakau kubaca mantra.
Dari alam, pulanglah kau ke alam!!
MERDEKA!!
RINDU PUISI

Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
Kamis, 28 Januari 2010
PUISI MALAM
Ku tuturkan dalam bahasa lugas tanpa lafas
tergugu beku mencumbu malam dalam dekapan rindu puisi malam
tergugu beku mencumbu malam dalam dekapan rindu puisi malam
Ada yang terlepas dari dasar jiwa , cintanya dan pemujanya
Bergulir sayup-sayup desau risau angin membelai wajahku yang pucat pasi
Dari bayangan sejuta angan kutahu semua terhampakan
Kembali kututurkan satu-satu bahasa dalam kalbuku
Mencuri jauhnya jiwa yang pernah termiliki dan yang kini terlepaskan
Tak tergeming meski hujahan rindu puisi malam aku hantarkan
lewat sayap-sayap kecil kelelawar malam
Hambakan sebuah fatamorgana yang dulu tercipta
Tersabit tajam belati ngilu dirasa tak juga terkata
Bentangan kabut malam menjemput peraduan bisu disetiap lengkuhan nafas terjagaku
Cicit burung tidurkan ilalang di padang yang gelap
Membatasi pandangan antara kehadiran bayangan yang terpasung di kegelapan
Rebah di puncak kekalutan akan sebuah kehilangan
Kututurkan satu desahan lelahku
Rinduku beradu menyalak bak serigala yang lapar
namun rindu ini terkubur kembali dalam gulita malam
puisi malam hanyalah gugahan jiwaku yang terjerembab dalam gelap kehidupan sesaat
Langganan:
Postingan (Atom)