Rabu, 17 Februari 2010

CIUMAN NYAMUK

Ciuman itu begitu maut

Gatal, menyakitkan dan membekas.

Tanda mata dari sikecil mungil

Yang terbang dari satu tempat ke tempat lain

Demi seteguk darah


Plak! Plak! Plak! dengan tangan atau raket

Tapi seolah dia mengejek

Terus berusaha menancapkan moncongnya

Demi seteguk

Atau sesuap darah segar


Ciuman sang betina yang begitu mematikan

Tidaklah indah dan nikmat seperti ciuman pertama

Sang tamu tak diundangpun ikut masuk

Dalam aliran darah, dalam detak jantung

Dan dalam hitungan hari, minggu, bulan terlihatlah akibatnya


Ciuman itu begitu menakutkan

Baik dari anopheles, culex, aedes aegepty, aedes albopictus atau 2000 jenis lagi

Semuanya menakutkan, mencemaskan

Bak regu tembak yang siap memuntahkan isi pelurunya

Kepada sang terpidana mati


Ciuman itu begitu mengerikan

Manakala beriring dengan demam berdarah, kaki gajah, malaria

Akibat ciumannya yang menjerat…

Sang dewi kematian dapat mengancam

Merenggut setiap jiwa yang lemah


Ciuman itu dapatlah terhindar

Jika kita menyadari makna keberadaan mereka

Jika kita paham benar dengan makna hidup

Cium mereka dengan obat nyamuk

Dijamin...menyingkir...yyyuukkkkkk

Senin, 01 Februari 2010

AKU MERINDUMU

Riuh melodi rindu kian menggebu
Melepas jejak jalan yang berabu
Saat hati tak bisa bersatu
Saat mata tak bisa bertemu
Sebuah kerinduan membuncah dalam kalbu
Aku sangat merindumu
Seperti malam merindu pagi
Seperti punguk merindu bulan
Sejuta nuansa hati bersatu
Dalam sejuta tanya dan permainan rasa
Aku merindumu kekasih
dan aku terus berteriak dalam hening
Tak adakah suara datang kepadamu
menceritakan rasa rindu yang tertuang
Dalam sebuah bait kata [...]

Sabtu, 30 Januari 2010

Ritual Pagi

Saat ini juga harus aku nyatakan!
Namun tiap pintu tak ada yang membuka untukku.
Sementara keringat dingin mulai menetes.
Kedua tangan terkepal menahan sakit.
Ya Tuhan….selamatkan aku.
Nekad sebuah pintu kudobrak.
Tak kupeduli jerit ketakutan pemilik ruang.
Tak kupeduli sumpah serapah orang-orang.
Saat ini juga harus aku keluarkan!
Dengan khusuk aku mengerang.
Lewat asap tembakau kubaca mantra.
Dari alam, pulanglah kau ke alam!!
MERDEKA!!

RINDU PUISI



Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat

Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi

Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat

Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali